28 September 2015

FaktorFaktor yang mempengaruhi eksistensi bahasa indonesia

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
“Bahasa Indonesia yang berfungsi sebagai alat integratif dan instrumentral dalam kehidupan bernegara sedang menghadapi tantangan besar. Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia mempunyai peranan penting dalam membangun jati diri Indonesia seutuhnya pada  abad ini menyebabkan pengaruh bahasa asing sangat dominan. Kekawatiran tentang bahasa asing ini bahkan  jauh hari telah dikemukan oleh Presiden pada saat Konggres Bahasa Indonesia VI tahun 1993 yang menyatakan bahasa Indonesia yang merupakan jati diri bangsa mengalami ancaman terutama makin tidak terkendalinya pemakaian kata dan istilah asing.
Rahardi mengemukakan bahwa bahasa Indonesia kian tergerogoti oleh bahasa asing. Dikemukakan pula bahwa dalam kerangka global hal tersebut tidak boleh dibiarkan terjadi. Oleh karena itu, Rahardi menyatakan urgensi memakai bahasa sendiri. Sementara itu, Tuhusetya (www.sawali.info) mengemukakan suatu pernyataan bahwa usia bahasa Indonesia hampir mencapai 79 tahun (sekarang sudah berusia 80 tahun) yang jika dianalogikan dengan usia manusia, dalam rentang usia tersebut idealnya sudah mencapai taraf kematangan dan kearifan hidup yang “paripurna”. Akan tetapi, secara jujur mesti diakui, bahasa Indonesia tampak makin payah dan sempoyongan dalam memikul beban peradaban pada era global dan mondial ini.

Dari paparan yang telah dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa eksistensi bahasa Indonesia mulai terdesak oleh bahasa asing, terutama oleh bahasa  Inggris.  Keadaan saling mendesak ini sebenarnya tidak hanya terjadi antara bahasa  Indonesia dan bahasa Inggris, tetapi juga antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Kenyataan yang ada sekarang ini, fungsi bahasa daerah mulai tergantikan oleh bahasa  Indonesia.  Situasi nonformal yang seharusnya menggunakan bahasa daerah mulai tergantikan oleh bahasa Indonesia. Sebagai contoh saat ini banyak keluarga muda  suku Jawa berkomunikasi dengan bahasa Indonesia pada anak balitanya, bukan lagi dengan bahasa Jawa. Begitu pula mulai ada kecenderungan bahasa Inggris  menggantikan peran bahasa Indonesia, baik dalam komunikasi nonformal (lingkungan keluarga) maupun komunikasi formal. Sekarang ini, banyak sekolah  yang sebenarnya bukan sekolah internasional menggunakan bahasa pengantar bahasa Inggris, tidak lagi menggunakan bahasa Indonesia dalam proses belajar mengajar. 


B.     Tujuan
Berdasarkan latar belakang diatas maka yang dapat dijadikan sebagai tujuan pembahasan yaitu:
1.      Untuk mengetahui definisi eksistensi Bahasa Indonesia
2.      Untuk mengetahui definisi Faktor-Faktor yang mempengaruhi eksistensi Bahasa Indonesia



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    Pengertian Eksistensi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 378) eksistensi  adalah keberadaan. Eksistensi dalam bentuk kata benda berarti hal berada. Berdasarkan penjelasan tersebut, eksistensi memaksudkan suatu keberadaan atau keadaan. Definisi makna sebenarnya yang terkandung memang sulit untuk dipahami. Hal ini disebabkan kata-kata dan bahasa sesungguhnya tidak sempurna, sehingga gagasannya tidak dapat dinyatakan secara persis. Terlebih lagi, kata eksistensi itu mencakup hal yang luas. Namun, bukan berarti kata tersebut tidak dapat dijabarkan (Bagoes, 2013).
Kata eksistensi dapat dipahami dengan melihat konteks kalimatnya. Misalnya, eksistensi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dalam pergaulan pada era globalisasi berarti keberadaan bahasa tersebut sebagai bahasa nasional di tengah pergaulan pada era itu. Eksistensi juga mengandung arti adanya satu hal dalam jangka waktu tertentu.
Maksudnya, hal itu masih ada tidak sampai jangka waktu yang ditentukan. Sebagai contoh, eksistensi bahasa Indonesia masih ada sampai sekarang. Ini berarti  bahasa Indonesia masih ada sampai sekarang. Eksistensi bahasa Indonesia sangat diperlukan oleh masyarakat.
Masyarakat menggunakan bahasa Indonesia untuk mengadakan sosialisasi kepada orang lain, terutama yang berasal dari daerah lain. Sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia digunakan oleh mereka dari Sabang sampai Merauke, di samping bahasa daerah meskipun ada beberapa masyarakat yang tinggal di daerah terpencil belum bias berbahasa Indonesia dengan baik. Eksistensi bahasa Indonesia tengah terancam pada era globalisasi ini. Masyarakat Indonesia lebih bangga menggunakan bahasa asing daripada bahasa nasionalnya sendiri.
Masyarakat juga sering menggunakan bahasa alay, bahasa gaul, dan bahasa sejenis yang dapat mengancam eksistensi bahasa Indonesia. Oleh karena itu, kita perlu melestarikan dan menjaga eksistensi bahasa Indonesia.

B.     Bahasa Indonesia
Sejarah mencatat bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa  Melayu-Riau, salah satu bahasa daerah yang berada di kawasan Sumatera. Pengangkatan dan penamaan bahasa Melayu-Riau menjadi bahasa Indonesia oleh para pemuda pada “Konggres Pemoeda”, 28 Oktober 1928, “lebih bersifat polit is” daripada “bersifat linguist is”. Jadi, secara linguist is, yang dinamakan bahasa Indonesia saat itu sebenarnya ialah bahasa Melayu. Tujuannya adalah ingin mempersatukan para pemuda Indonesia, alih-alih disebut bangsa Indonesia. Ciri-ciri kebahasaannya sama dengan bahasa Melayu. Namun, para pemuda menggunakan nama bahasa Indonesia yang dapat memancarkan inspirasi dan semangat nasionalisme, bukan nama bahasa Melayu yang berbau kedaerahan (Muslich, 2010: 26).
Muslich (2010: 27) menjelaskan bahwa butir ketiga ikrar “Soempah Pemoeda” berbunyi “Kami poetra-poetri Indonesia, mendjoenjoeng tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia” (Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia). Ikrar yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober oleh bangsa Indonesia ini juga memperlihatkan betapa pentingnya bahasa bagi suatu bangsa. Bahasa sebagai alat komunikasi yang paling efektif dan mutlak
diperlukan oleh setiap bangsa. Tanpa bahasa, bangsa tidak mungkin berkembang. Selain itu, bangsa tidak mungkin dapat menggambarkan dan menunjukkan dirinya secara utuh dalam dunia pergaulan dengan bangsa lain. Akibatnya, bangsa itu akhirnya lenyap ditelan zaman. Jadi, bahasa menunjukkan identitas bangsa tersebut.
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (dalam Muslich, 2010: 16) menjelaskan fungsi bahasa Indonesia, selain sebagai identitas bangsa, antara lain sebagai (a) lambang kebanggaan nasional, (b) lambang identitas nasional (c) pemersatu berbagai lapisan masyarakat yang berbeda latar belakang sosial budaya bahasa, dan (d) alat perhubungan komunikasi antarbudaya dan antardaerah.

C.    Eksistensi Bahasa Indonesia Di Era Globalisasi
Eksistensi Bahasa Indonesia Pada era globalisasi sekarang ini, jati diri bahasa Indonesia perlu dibina dan dimasyarakatkan oleh setiap warga negara Indonesia. Hal ini diperlukan agar bangsa Indonesia tidak terbawa arus oleh pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan bahasa dan budaya bangsa Indonesia. Pengaruh alat komunikasi yang begitu canggih harus dihadapi dengan mempertahankan jati diri bangsa Indonesia, termasuk jati diri bahasa Indonesia. Ini semua menyangkut tentang kedisiplinan berbahasa nasional,pemakai bahasa Indonesia yang berdisiplin adalah pemakai bahasa Indonesia yang patuh terhadap semua kaidah atau aturan pemakaian bahasa Indonesia yang sesuai dengan situasi dan kondisinya. Disiplin berbahasa Indonesia akan membantu bangsa Indonesia untuk mempertahankan dirinya dari pengaruh negatif asing atas kepribadiannya sendiri.
Peningkatan fungsi bahasa Indonesia sebagai sarana keilmuan perlu terus dilakukan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Seirama dengan ini, peningkatan mutu pengajaran bahasa Indonesia di sekolah perlu terus dilakukan.
Namun, seiring dengan bertambahnya usia, bahasa Indonesia justru dihadang banyak masalah. Pertanyaan bernada pesimis justru bermunculan. Mampukah bahasa Indonesia menjadi bahasa budaya dan bahasa Iptek yang berwibawa dan punya prestise tersendiri di tengah-tengah dahsyatnya arus globalisasi? Mampukah bahasa Indonesia bersikap luwes dan terbuka dalam mengikuti derap peradaban yang terus gencar menawarkan perubahan dan dinamika? Masih setia dan banggakah para penuturnya dalam menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi yang efektif di tengah-tengah perubahan dan dinamika itu?
Akan tetapi, beberapa kaidah yang telah dikodifikasi dengan susah-payah tampaknya belum banyak mendapatkan perhatian masyarakat luas. Akibatnya bisa ditebak, pemakaian bahasa Indonesia bermutu rendah: kalimatnya rancu dan kacau, kosakatanya payah, dan secara semantik sulit dipahami maknanya. Anjuran untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar seolah-olah hanya bersifat sloganistis, tanpa tindakan nyata dari penuturnya (Sawali Tuhusetya, 2007).
Melihat persoalan di atas, tidak ada kata lain, kecuali menegaskan kembali pentingnya pemakaian bahasa Indonesia dengan kaidah yang baik dan benar. Hal ini –disamping dapat dimulai dari diri sendiri- juga perlu didukung oleh pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah.
Pembelajaran bahasa Indonesia tidak lepas dari belajar membaca, menulis, menyimak, berbicara, dan kemampuan bersastra. Aktivitas membaca merupakan awal dari setiap pembelajaran bahasa. Dengan membaca, mahasiswa dilatih mengingat, memahami isi bacaan, meneliti kata-kata istilah dan memaknainya. Selain itu, mahasiswa juga akan menemukan informasi yang belum diketahuinya.

D.    Eksistensi Bahasa Indonesia
Eksistensi bahasa Indonesia dapat dilihat dari pengembangan dan  penggunaannya dalam sejarah. Bahasa Indonesia masih digunakan hingga saat ini. Hanin (2012) menjelaskan bahwa sejarah bahasa Indonesia yang kita gunakan sekarang ini berasal dari bahasa Melayu Riau dari abad XIX, yang merupakan salah satu ragam bahasa Melayu dari Kepulauan Riau.
Kerajaan Sriwijaya mempunyai peranan penting dalam menyebarkan bahasa Indonesia ke seluruh wilayah Nusantara secara tidak langsung. Kerajaan tersebut adalah kerajaan besar yang menguasai jalur perdagangan di Nusantara. Kerajaan itu menduduki wilayah kerajaan Melayu dan meluas hingga ke wilayah di luar Nusantara. Oleh karena itu, sampai saat  ini negara Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura juga menggunakan bahasa Melayu walaupun dengan dialek yang agak berbeda. 
Mulai sekitar abad ke-20 bahasa Indonesia dipakai oleh masyarakat di lingkungan pemerintahan administratif. Masa penjajahan member peranan dalam pembentukan bahasa Indonesia masa kini. Banyak katakata serapan yang berasal dari bahasa asing seperti bahasa Inggris, bahasa Portugis, dan bahasa Belanda. Kata-kata serapan tersebut terlalu sering digunakan dalam percakapan bahasa Indonesia, sehingga bentuknya diubah dan lama kelamaan diserap ke dalam bahasa Indonesia baku.
Tonggak bersejarah perkembangan bahasa Indonesia terjadi pada tanggal 28 Oktober 1928. Pada saat itu, Indonesia mencangangkan “Soempah Pemoeda”. Dalam “Soempah Pemoeda” itu secara resmi bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa nasional (Die, 2013).  Sebelum terjadi perist iwa “Soempah Pemoeda”, bahasa Indonesia masih disebut sebagai bahasa Melayu. Jika bahasa Melayu tetap digunakan, kemungkinan akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Untuk menghindari hal itu, maka nama “bahasa Melayu” digant i menjadi “bahasa  Indonesia.”. Hal ini juga mempunyai tujuan untuk mempersatukan bangsa Indonesia yang pada saat itu masih tercerai berai akibat penjajahan bangsa asing yang berlangsung lama dan berkepanjangan. Die (2013) mengatakan bahwa bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi Republik Indonesia.  Penggunaan bahasa Indonesia diresmikan sehari setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Eksistensi bahasa Indonesia dapat dilihat dari digunakannya bahasa tersebut hingga saat ini. Hanin (2012) mengemukakan bahwa pada era globalisasi bahasa Indonesia telah dipakai oleh 90% dari seluruh penduduk Indonesia. Bahasa ini juga telah dipakai di hampir semua instansi resmi pemerintahan, pendidikan, perdagangan, transportasi, media massa, dan lain-lain. Namun, masih ada sebagian kecil penduduk atau suku belum mengenal bahasa Indonesia. Eksistensi bahasa Indonesia juga terlihat di negara asing.
Muslich (2010: xi) mengatakan bahwa perkembangan bahasa Indonesia di dalam negeri cukup pesat, begitu pula dengan perkembangannya di luar negeri. Data terkhir memperlihatkan setidaknya 52 negara asing telah membuka program bahasa Indonesia (Indonesian Language Studies). Bahkan, perkembangan ini semakin meningkat setelah terbentuk Badan Asosiasi Kelompok Bahasa Indonesia Penutur Asing di Bandung tahun 1999.

E.     Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Eksistensi bahasa Indonesia
Faktor-faktor yang mempengaruhi bahasa indonesia kita. banyak faktor yang sangat kuat untuk mempengaruhi bahasa indonesia kita, saat kita menggunakanya dengan baik. Disaat kita berbicara dengan sesama kita bisa terpengaruh karena yang pertama lingkungan, faktor lingkungan ini sangat kuat pengaruhnya karena kita berada didalam lingkungan tersebut. Yang  kedua faktor teman terkadang secara tidak sengaja kita sering mengucapkan kata-kata tidak baku dengan teman-teman kita, karena ingin dikatakan gaul. Yang ke tiga pengaruh bahasa daerah, pengaruh ini sering kita dengar sedikit banyak nya jika seseorang tidak sering menggunakan bahasa indonesia ia akan janggal saat berbicara, dia bisa tidak sengaja mengeluarkan bahasa daerahnya saat berbicara dengan orang lain yang jadi nya orang lain tidak mengerti.
Penggunaan kalimat tidak baku dalam berbicara juga mempengaruhi saat kita berbicara dalam situasi formal. ada kalimat-kalimat yang sering kita dengar, saat kita mendengarnya terasa janggal. Ini yang masih mempengaruhi keadaan bahasa kita saat ini. Ini contoh-contoh kalimat tidak baku ialah; ia pukul anjing itu sampai mati, saya kirim surat untuk ibu, pemerintah tolak impor barang ilegal, dan lain-lain.
Setelah kita melihat masalah-masalah diatas kita sudah menyadari ternyata banyak kesalahan kita saat berbicara dengan orang lain. Maka dari itu kita bisa menilai masalah diatas untuk memperbaiki ucapan kita saat berbicara dengan orang lain. Karena ketika ucapan kita sudah sah menurut kamus besar bahasa indonesia bayak keuntungan yang kita temui kita bisa lancar untuk berbicara saat berada didepan orang lain, kita tidak sungkan lagi untuk mengikuti acara-acara formal, kita bisa menilai orang yang berbahasa indonesia yang benar bahwa ia menjunjung tinggi bahasa indonesia.
BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
“Bahasa Indonesia yang berfungsi sebagai alat integratif dan instrumentral dalam kehidupan bernegara sedang menghadapi tantangan besar.  eksistensi memaksudkan suatu keberadaan atau keadaan Indonesia berasal dari bahasa  Melayu-Riau, salah satu bahasa daerah yang berada di kawasan Sumatera. Pengangkatan dan penamaan bahasa Melayu-Riau menjadi bahasa Indonesia oleh para pemuda 
Eksistensi bahasa Indonesia dapat dilihat dari pengembangan dan  penggunaannya dalam sejarah. Bahasa Indonesia masih digunakan hingga saat ini.

B.     Saran
Masyarakat sebaiknya lebih bangga menggunakan bahasa Indonesia  daripada menggunakan bahasa asing. Anak-anak muda dan mahasiswa-mahasiswa  hendaknya meminimalisir menggunakan bahasa alay, bahasa gaul, dan bahasa sejenis yang dapat mengancam eksistensi bahasa Indonesia.
Para dosen hendaknya menggunakan dan mengajarkan bahasa Indonesia yang
baik dan benar mahasiswa-mahasiswa. Pihak swasta hendaknya menggunakan lisan dan tulisan dalam bahasa Indonesia dalam iklan maupun produk mereka.


DAFTAR PUSTAKA

Bagoes, N. (2013). Pengertian eksistensi dan kajian usabha candidasa part I.  Diakses tanggal 22 November 2013, dari www.congkodok.blogspot.com

Muslich, M. (2010). Bahasa indonesia pada era globalisasi: kedudukan, fungsi,  pembinaan, dan pengembangan. Jakarta: Bumi Aksara.

Partana, Paina dan Sumarsono. 2004. Sosiolinguistik. Yogyakarta: Sabda bekerja sama dengan Pustaka Pelajar.Timggalkan Komentar Anda

0 komentar: